Saat ini banyak pameran-pameran buku diadakan. Menurut pengamatanku, hampir setiap bulan ada acara pameran (bisa buku, kriya, makanan, budaya, deelel) di Bandung. Pastinya, dengan menjamurnya acara pameran berarti Bandung cukup potensial untuk mengadakan acara pameran.
Setelah beberapa kali ikut pameran buku, aku jadi dapet banyak pengalaman menarik seputar penyelenggara pameran atau istilah kerennya EO (Event Organizer). Ada EO yang enak bekerja sama dengan peserta stand ada juga yang nggak enak.
Ada beberapa catatan tentang EO-EO penyelenggara pameran, setelah beberapa kali ikut, suamiku (dia yang hobi ikut pameran ) bisa memprediksi mana pameran yang kayaknya sukses mana yang nggak. Hal pertama yang harus diputuskan ketika ikut pameran yaitu lihat dulu penyelenggaranya kalau penyelenggaranya profesional pastinya mereka akan memprediksikan berapa banyak pengunjung yang akan hadir dan seberapa potensialkah pengunjung itu menjadi pembeli.
Kita pernah ikut pameran buku di Malang, di sana pengunjung tidak terlalu ramai tapi mereka sangat potensial membeli. Kita juga pernah ikut pameran di Sabuga, acaranya Diknas (nama EO-nya Green) mereka profesional dalam menyelenggarakan acara sehingga acaranya sukses (menurut ukuranku) soalnya pengunjungnya banyak dan potensial.
Yang agak mengecewakan ketika kita ikut pameran buku di Mall Paris Van Java (namanya EO-nya??? ada deh). Ada beberapa catatan kekecewaan saya dan suami sebagai peserta stan, pertama pengunjung yang datang itu secara umum bukanlah pengunjung pameran melainkan pengunjung mall. Sebenarnya mereka cukup potesial membeli akan tetapi susah dibedakan apakah mereka sengaja berkunjung ke pameran atau hanya sekadar kebetulan jalan-jalan di mall dan ada pameran.
Catatan kedua, pihak panitia bertindak semena-mena mengacak-ngacak stan yang dianggap melebihi batas karpet. Padahal, dalam perjanjian awal tidak ada perjanjian bahwa barang2 tidak boleh melebihi karpet dan menurut saya sangat tidak sopan panitia dengan nota bene bantuan satpam mengacak- ngacak barang di stan. (kejadian yang bikin bete banget, saat stand lagi dikelilingi pembeli datanglah satpam yang bilangnya mo beresin stand kita, sehingga para pembeli kabur, trus barang2 digeser dengan nggak rapi banget, pokoknya nggak sopan banget, deh)
Dan catatan buruk yang ketiga yang menurut saya sangat fatal yaitu terjadinya kehilangan buku-buku di stan. Banyak stan yang mengeluh kehilangan buku-buku dagangan. Begitu pula dengan stan kami. Suamiku udah mengajukan hal tersebut kepada panitia namun ternyata nggak ada tanggapan yang memuaskan. Jawabanya hanya "kehilangan sudah dilaporkan" tanpa ada penjelasan apa-apa. Sungguh hal ini sangat mengecewakan. Tanggung jawab panitia sama sekali tidak ada.
Buat EO-EO yang bermaksud mengadakan pameran buku atau apa saja diharapkan lebih bisa membuat peserta stan pameran merasa nyaman ikut pameran. Jangan sampai kita merasa akan digusur kamtib. Karena peserta pameran itu bayar stand nggak murah, lho. Yang kedua masalah keamanan juga harus diperhatikan, dengan banyaknya barang yang hilang, peserta pameran boro-boro untung yang ada malah rugi deh. 